7 Penyebab Fresh Graduate Susah Dapat Kerja (dan Solusinya)

Lulus kuliah bukan berarti perjuangan selesai. Anda masih harus berjuang lagi untuk mendapat pekerjaan, dan ini justru lebih menantang dibanding perjuangan lulus kuliah. Maka tak heran jika salah satu keluhan utama fresh graduate selepas wisuda adalh, “Kok susah banget ya, dapat kerja?”

Kalau Anda termasuk salah satu di antaranya, simak tujuh alasan berikut ini mengapa fresh graduate sulit mendapatkan pekerjaan, berikut solusinya.

Mengabaikan Kualifikasi

Mitos Mencari Kerja di Usia 40-an

Banyak fresh graduate yang gagal mendapatkan pekerjaan karena menyepelekan persyaratan dan cuek saja melamar ke semua lowongan yang mereka temukan tanpa menyesuaikan dengan apa yang dibutuhkan. Padahal, jika pengalaman Anda masih nol dan Anda melamar ke perusahaan yang membutuhkan pengalaman minimal 3 tahun, atau Anda lulusan Teknik Sipil tapi melamar ke pekerjaan yang meminta kandidat dari jurusan Public Relation, tentu saja lamaran Anda akan langsung masuk tempat sampah.

Solusi: Seperti akan bertempur, Anda wajib siap dengan segala halnya. Demikian juga saat mencari pekerjaan, selain CV dan cover letter, Anda juga harus menyimak baik-baik persyaratan apa yang diajukan di lowongan, dan apakah Anda memenuhi kualifikasi tersebut. Lebih baik mengirim lamaran ke 10 lowongan di mana Anda memenuhi syarat, daripada 100 lowongan yang tidak membutuhkan Anda.

Kurang Pengalaman

Memang cukup banyak perusahaan yang menerima karyawan fresh graduate, namun jumlahnya kalah banyak dengan jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahun. Tidak adanya pengalaman menyebabkan fresh graduate ‘kalah’ dalam persaingan bursa kerja.

Solusi: Sebenarnya hal ini bisa diakali dengan banyak melakukan internships alias magang saat masih kuliah, sehingga ada sedikit pengalaman kerja yang bisa dicantumkan di dalam CV. Jika sudah telanjur, Anda juga bisa mengambil pekerjaan internship berbayar, segera setelah lulus kuliah. Satu tahun saja cukup, untuk memperkaya CV Anda dengan pengalaman sekaligus sebagai ajang Anda belajar.

Lagi pula, siapa tahu setelah periode magang selesai, Anda ternyata langsung diangkat sebagai pegawai tetap?

Tak Ada Nilai Tambah

Persaingan kerja di Indonesia sangat ketat. Belum lagi kalau Anda melamar ke profesi yang cukup populer di mana Anda harus bersaing bukan saja dengan sesama fresh graduate, tapi juga dengan kandidat lain yang lebih berpengalaman ataupun berpendidikan lebih tinggi dari Anda.

Jika Anda tak punya nilai tambah yang bisa membuat Anda menonjol dibandingkan kandidat lain, CV Anda tak akan dilirik oleh perusahaan yang setiap hari mungkin menerima ratusan lamaran.

Solusi: Untuk menyiasatinya, coba pikirkan apakah Anda pernah bergabung dengan organisasi tertentu misalnya kegiatan ekstrakurikuler, atau jika Anda pernah mendapatkan award di suatu pertandingan (Juara Harapan juga lumayan, kok). Atau, sembari menunggu panggilan kerja, manfaatkan waktu Anda untuk mengambil kursus yang dapat menambah skill Anda seperti les bahasa Mandarin, belajar codingpublic speaking, dan sebagainya.

Terlalu Selektif

Terlalu “nyampah” dan mengirim lamaran ke ratusan lowongan memang tidak efektif, tapi terlalu picky pun tidak bagus. Bagaimana Anda bisa menemukan karir yang ternyata cocok untuk Anda, kalau Anda bahkan tak pernah mencoba?

Solusi: Jika Anda memang sudah punya satu perusahaan incaran, coba perluas pencarian kerja ke perusahaan lain di bidang yang sama. Atau buatlah daftar industri dan bidang pekerjaan yang menarik minat Anda, dan yang sekiranya Anda masih mau untuk mencoba, kemudian lamarlah ke perusahaan yang sesuai. Toh kalau ternyata Anda tak suka setelah menjalaninya, setidaknya Anda tahu karena sudah mencoba. Dan Anda juga jadi punya pengalaman yang bisa ditambahkan ke dalam CV.

Kurang Jaringan

Karena baru lulus, biasanya fresh graduate tidak memiliki jaringan seluas orang yang sudah bekerja, dan jarang ada yang ingin memulai karena berpikir networking hanya untuk pekerja kantoran. Padahal tanpa networking, kesempatan Anda mendapatkan info lowongan pekerjaan lebih sedikit karena tak cukup sumber.

Solusi: Aktif di sosial media dan menjalin koneksi di website seperti LinkedIn bisa menjadi jalan untuk mendapat jaringan baru. Selain melalui media sosial, Anda juga bisa membuka jaringan dengan para alumni kampus Anda untuk mendapatkan informasi pekerjaan, bahkan merekomendasikan Anda ke perusahaannya.

Kurang Percaya Diri

Banyak fresh graduate yang masih malu-malu atau tidak percaya diri saat berhadapan dengan pewawancara di ruangan interview, meskipun ia punya keahlian dan bakat yang bisa jadi pertimbangan perusahaan. Ini berpotensi membuat calon bos Anda ilfeel dan berpikir dua kali untuk mempekerjakan Anda.

Solusi: Ingat, pewawancara juga manusia, jadi Anda tak perlu takut. Apa sih hal terburuk yang bisa terjadi ruangan wawancara? Kemungkinan terburuknya adalah Anda tak diterima kerja, tapi itu justru bisa terjadi jika Anda tak percaya diri. Jadi, ayo tegakkan kepala, bicara dengan suara yang jelas terdengar, dan jangan sungkan promosikan diri Anda di depan pewawancara.

Jika Anda masih minder, lakukan 5 trik berikut ini untuk terlihat percaya diri meski sebenarnya tidak.

Nilai di Bawah Rata-Rata

Meskipun sebagian besar perusahaan tidak meminta nilai IPK sebagai persyaratan, faktor ini tetap bisa jadi penentu Anda untuk diterima atau ditolak di perusahaan jika IPK Anda benar-benar di bawah rata-rata. Perusahaan jadi akan bertanya-tanya, apa yang salah dengan Anda sampai bisa mendapat IPK serendah itu.

Solusi: Seandainya Anda memiliki nilai IPK yang agak “memalukan”, dan Anda melamar ke perusahaan yang tak mensyaratkan penyebutan nilai IPK maupun pemberian fotokopi ijazah, tak usah lah berinisiatif mengumumkan atau memberi ijazah. Cukup kirimkan CV, cover letter, dan persyaratan lain yang diminta, dan tak perlu ungkit-ungkit soal IPK Anda kecuali Anda memang ditanya saat wawancara.

Siapkan juga jawaban yang tepat untuk saat Anda ditanya. Anda bisa bilang misalnya nilai Anda buruk karena bidang studi tersebut sebenarnya bukan minat Anda, atau akui kesalahan Anda yang terlalu sering nongkrong dan beraktivitas di luar ketimbang kuliah. Malah mungkin lewat alasan ini Anda bisa mempromosikan bakat dan keunggulan Anda yang lain.

Lihat Lowongan Jakarta untuk Freshgraduate